Breaking News
|

| Travel Notes |
|
|
|
|
Berkunjung Ke Musium Bank Indonesia Sebenarnya lokasi Musium Bank Indonesia (BI) ini tidak jauh dengan Bank Mandiri, dan kami pun harus berjalan kaki dahulu untuk mencapai lokasi ini sampai menyeberang jalanan segala. Konon musium BI ini henempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang arsitetur bangunannya sangat kental dengan nuansa Meneer Belanda gaya klasik dengan teknik aristektur budaya setempat.
Sebelum masuk kita diminta menitipkan barang dahulu di tempat yang sudah disediakan oleh petugas Musium Bank Indonesia. "Jangan lupa untuk tidak meninggalkan barang berharga ya di dalam tas seperti Kamera, Uang, perhiasan dan lain sebagainya" begitu teriak petugas yang sibuk mengatur tas tas kami yang bermacam amcam merek, bentuk , warna dan ukuran itu.
Kami dipandu oleh para staf atau petugas lapangan (Guide) agar rombongan searah serasi dan seimbang. Tapi dasar orang Indonesia, dipandu sama pemandu Muisum bukannya menyimak mendengarkan malah asyik ke sana kemari, walhasil sang Guide berteriak teriak pake Megaphone agar tertib. Ribut mulu kaya anak TK hhihihihi. Tugas Guide ini yang saya lihat berusaha menggiring para peserta mengikuti timeline sejarah Bank Indonesia dari jaman baheula sampai sekarang dengan menyusuri bangunan arsitektur yang bersejarah
Tidak banya, yang saya catat selama berkeliling di dalam Musium Bank Indonesia ini jadi saya sekilas sekilas saja mengamati, melihat, dan kadang memegang koleksi yang ada dalam Musium Bank Indonesia tersebut. Sesekali saya rekam videonya namun belum sempat saya unggah karena kuatir filenya gede gede. Namun sekilas di bagian dalam Musium BI ini ada Pusat Informasi Bank Indonesia, Auditorium, Kios Cindera Mata atau sopenir (saya nda beli apa apa disini-red) , Ruang Serba Guna, Perpustakaan ,
Cerita Serem Versi Peserta
Ini benar benar terjadi yang saya alami sendiri dan juga dari cerita peserta Indonesia lainnya. Rombongan peserta MDGs yang berasal dari berbagai negara itu dipecah dalam beberapa kelompok, dan setiap kelompok berisi sekitar 20 orang dipandu oleh satu orang Guide terlatih dari Musium Bank Indonesia. Rombongan saya bersama dengan peserta dari Thailand, Burma, dan juga Singapura dan tentu saja temen temen sendiri dari Indonesia.
Ketika rombongan saya melewati ruangan menuju diorama di sisi lain yang mengharuskan naik lift, saya tertinggal beberapa meter dari rombongan saya, dan saya pun bergegas menyusul. Namun karena kebelet ngacir dulu sebentar ke salah satu WC yang ada di sana. Begitu saya masuk ke ruangan itu hawa dingin menusuk tulang dan juga debu debu disekitarnya. Apa tidak terurus nih kata saya dalam hati. Bingung saya dibuatnya hari nan panas itu masih memberikan efek hawa dingin kaya berpendingin AC. Herman eh heran dingin dari mana datangnya.
Ada lagi cerita peserta Indonesia lainnya yang saya tidak sebutkan namanya (kuatir dia juga membaca tulisans saya ini dan mendapat olok olok-red), dia bilang kepada guidenya mau naik lift ke lantai atas, dan mereka sudah siap dalam antrian di lift yang akan segera membawanya ke atas. Namun guidenya senyum senyum saja sambil tetap memegang megaphone di tangannya. "Tunggu dulu ya liftnya biarkan naik sendiri dahulu" katanya. Dia bilang di lift tersebut kosong tidak ada orangnya kenapa harus dinaikkan dahulu. Si Guide bilang bahwa di lift itu sudah ada "yang nempatin". Melongo kami semuanya. Belum lagi cerita Guide Musium BI yang bilang kepada kami kalaw mau berfoto di lingkungan Musium sebaiknya jangan berdua, dan saya pun bertanya mengapa harus tidak boleh berdua saja. Guide BI yang saya tanyapun senyum senyum saja tidak menjawab pertanyaan saya. Saya pun menebak nebak apa maksud senyumnya itu, bukan malah menjawab pertanyaan saya. Mungkin ada "sesuatu" kali hehehehe. Tapi yah begitulah cerita cerita di sekitar BI ini. Apakah kawan kawan juga punya cerita serupa tentang Musium Bank Indonesia? Share donk plis donk aw aw aw aw Belum lagi saat saya memasuki ruangan koleksi para sinyo belanda yang berbentuk patung diam itu sekilas saya lihat kedua matanya seperti "hidup" mana ruangannya juga dingin, dan cukup sepi , jadi saya tidak bertahan lama lama dalam ruangan penyimpnan koleksi tersebut. Jangan jangan kalaw pas lagi apesnya, tuh patung patung sinyo Belanda bisa colek colek saya kan bisa ngacirr cirrrrrrrrrr. Tapi aseli memang serem saya liat patung patung sinyo dan tuan tuan Belanda di ruangan itu. (Asep Haryono) |
Arsip Ucapan
Asep Twitter
Breaking News
|















